Berteman Dengan Kegagalan

by - July 04, 2020

caranya berteman dengan kegagalan


Pagi gue kali ini cukup melow. Entah kenapa secara gak sengaja tangan gue bergulir ke album di ponsel dan scrolling foto-foto dari mulai sekitar tiga tahun lalu, saat gue masih seneng-senengnya berorganisasi dan menyibukan diri dengan hobi yang baru saat itu—menulis indah aksara Jepang (Shuuji/Shodou). Kemudian pikiran gue teringat tentang suatu hal. 

Dari dulu, setiap kali gue ikut lomba atau kompetisi apapun, gue selalu gagal. Keberhasilan yang terakhir kali gue rasain mungkin pas SMA, itupun paling tinggi ya tingkat sekolah, alias ruang lingkupnya lebih kecil. Sejak lulus SMA itu, gue gak pernah tau gimana rasanya menang, literally menang. Di komunitas luar, gue sempat ikut beberapa lomba menulis cerpen, tapi juga gak pernah berhasil. Gue sadar sih, mungkin waktu itu tulisan gue memang belum bagus—sampe sekarang malah. Walaupun begitu, nyatanya kondisi itu gak cukup bikin gue lebih termotivasi untuk menulis, karena lagi-lagi gue berpikir gue nggak se-capable itu untuk lanjut menulis. Masih banyak orang yang lebih jago dibanding gue.

Saat gue masuk kuliah pun, kegagalan sepertinya jadi makanan rutin buat gue. Ikut lomba kaligrafi Jepang, gagal empat kali berturut-turut dalam empat tahun. Setiap kali gue daftar kegiatan tertentu yang mengharuskan ada persaingan, lagi-lagi gue juga gagal. Gue pernah ikut lomba News Anchor yang diselenggarain salah satu stasiun TV di kampus gue, gagal juga. Padahal itu salah satu bidang yang gue kuasain pas di SMA dulu. Gue ngedaftar kegiatan volunteer untuk pengabdian pun gagal di tahap wawancara. Bahkan, untuk bisa meraih level tertentu JLPT (Japanese Language Proficiency Test) yang menjadi keharusan gue sebagai mahasiswa di jurusan itupun harus gagal berkali-kali. FYI, gagal bagi gue gak serta merta harus juara 1, 2, atau 3, nope. Ketika gue bisa lolos paling nggak 10 besar atau 20 besar sekalipun, itu udah merupakan suatu pencapaian dan keberhasilan buat gue.

Apakah gue memang sebodoh itu? Apakah gue kurang berusaha? *Don’t try to encourage me coz i know exactly the damn answers are. Gue memang nggak cukup pintar dan kurang berusaha dalam hal itu. Tapi, untuk persoalan yang lain, gak peduli seberapa keras gue berusaha, gue seperti berlari menuju kegagalan itu sendiri. Bukan satu kali gue merasa selangkah lagi untuk bisa mencapai titik yang gue mau, tapi ibaratnya jalan itu seolah langsung dibelokan ke tempat dimana gue bertemu kembali dengan gagal. Herannya kayak ada aja alasan yang bikin gue gak maksimal di detik-detik terakhir. Mungkin satu-satunya keberhasilan yang gue bisa rasakan sampai sekarang ya kuliah. Sebab gue tau beratnya perjuangan di balik itu.

Awalnya gue gak bisa terima. Gue merasa bahwa gue seharusnya bisa memperoleh paling nggak secuil kabar baik akan usaha gue. Gue bingung, kenapa setiap kali gue berlatih keras, pada saatnya tiba gue malah terlihat seperti orang yang gak berusaha? Apa gue memang ditakdirkan untuk selalu gagal? Apa gue gak menekuni dengan baik apa yang sedang gue kejar?

Ternyata selama ini gue memang gak fokus dengan diri gue dan apa yang gue kejar. Gue mudah sekali ter-distract dengan kondisi di sekeliling gue. Bukannya fokus dengan apa yang sedang gue lakuin, gue malah fokus meniti kekurangan orang lain supaya gue bisa menambal itu dengan kelebihan gue, dan supaya gue bisa ada di depan mereka. Gue terlalu fokus mencari tahu apa yang orang lain sedang kerjakan daripada gue mencari tahu dimana salahnya gue, dan apa yang menjadi kelemahan gue. Gue optimis dengan cara yang salah, karena itu gagal adalah tempat yang tepat untuk gue bahkan sebelum perlombaan itu dimulai. Dulu waktu gue menang beberapa lomba pas kecil, gue hanya fokus memperbaiki segala kekurangan yang gue punya. Karena yang gue lihat di depan sana ya cuma jalan yang tenang dan panjang untuk gue maju, bukan barisan orang yang harus gue teliti satu persatu.

Seharusnya kita memang gak perlu terlalu mengglorifikasi persaingan. Seperti kata mas ini di twitter,


kita terbiasa dididik untuk apa-apa harus menang, apa-apa harus unggul dan nomor satu, bahkan untuk ngantri BLT aja semua orang jadi kesetanan sama uang, padahal ada di antrian belakang bukan berarti gak akan kebagian. Semua udah punya bagiannya. 

Gue pun secara nggak langsung membentuk diri bahwa pencapaian is a thing—pencapaian memang is a thing, tapi kalau sampai mikir bahwa hanya nomor satu yang bisa disebut pencapaian, hidup kita gak ada artinya. Bahkan mungkin kita gak tau apa aja nilai-nilai atau hikmah yang bisa kita punya untuk dijadiin sebuah pembelajaran. Apa sih gunanya pencapaian kalau gak membuat diri kita merunduk seperti padi?

Dari situ gue seperti diketuk, mengalami kegagalan berkali-kali justru membuat gue jadi orang yang gak lupa diri dan selalu mawas diri. Gue tau rasanya gagal, meaning gue akan lebih tabah (insya Allah) saat harus kembali gagal, also meaning gue bisa belajar untuk gak berharap lebih tinggi. Melainkan berusaha semampu gue dan fokus dengan apa yang gue bisa.

One of my favorite musical actress, Sierra Boggess, said; "you are enough, you are so enough, it's unbelievable how enough you are". Kita gak perlu menunjukan kepada orang lain sehebat apa kita sampai lupa bahwa berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri sudah lebih dari cukup. Dia selalu mengatakan itu kepada dirinya sendiri sebelum tampil di panggung musikal, karena dia sadar gak ada yang perlu ditunjukan kepada orang lain, gak perlu berlebihan ingin jadi yang paling menonjol di atas panggung, cukup jadi diri sendiri dan—dalam konteks dia, bagikan cerita apapun yang pingin dibagikan terhadap orang-orang. Karena satu-satunya yang perlu dilakuin dalam kompetisi tak terbatas ini adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa, semampu kita, no need to show off to people who don't even care who you are with those achievements.

Toh kalau gue gak mengalami serangkaian kegagalan itu, gue gak akan bisa nulis kayak gini. Gue gak tau caranya sabar dan ikhlas. Padahal segini belum ada apa-apanya dibanding petualangan gue nanti di tahun-tahun berikutnya, itu juga kalau gue panjang umur—Aamiin.

Oh iya, soal pernyataan gue yang bilang bahwa masih banyak orang yang lebih jago dibanding gue. Pikiran kayak gitu adalah sebuah kesalahan, jangan ditiru ya. Memangnya kenapa kalau ada orang yang lebih jago? Again, you are so enough. Gak ada yang menyuruh gue untuk lebih jago dari orang lain, yang ada adalah gue harus belajar banyak dari mereka yang hebat di luar sana. Toh semakin banyak orang yang menulis, semakin banyak kebaikan yang bekerja di bumi kita ini. 

Jadi, apa ada cara supaya kita bisa berteman dengan kegagalan?๐Ÿคท๐Ÿป‍♀️

Bentar, nguap dulu. *Hoahh*๐Ÿ˜ช

Garis besarnya seperti yang gue bilang di atas implicitly,  terima kenyataan bahwa kita akan selalu hidup di antara dua sisi, antara hitam dan putih, cahaya dan kegelapan, baik dan buruk, halus dan kasar, bersih dan kotor, juga keberhasilan dan kegagalan. Untuk mencapai tempat yang nyaman yang kita sebut pencapaian atau keberhasilan, kita akan selalu bertemu dengan kegagalan. The more failures you get, the more mature you will be. Because the more failures you face, the harder life you will go through. Semakin sering kita bertemu dengan kegagalan, make tameng yang kita punya untuk melewati hidup bakalan lebih kokoh.

Kuncinya ya sabar, even when you don't want to, you have to. Kalau gak sabar, gimana kita bisa ngelewatin rintangan berikutnya? Gimana kita bisa belajar? Bukannya kunci keberhasilan sendiri ya sabar dan berusaha?

"No, you might be wrong. Kunci keberhasilan itu ya kegagalan."

That's what i'm saying. Kegagalan itu ibarat tutup botol, cuma pembuka. Apa yang ada di dalam botolnya ya sabar dan usaha (dan juga do'a). Apa yang bisa menghilangkan dahaga lo adalah serangkaian usaha, kesabaran dan do'a-do'a yang lo curahkan.

Terakhir, sadari bahwa diri lo adalah seonggok manusia yang selalu kurang dan tidak sempurna. Butuh untuk dipoles. Semakin bagus polesannya, semakin baik hasilnya. Ketika lo gagal, tidak lantas lo menjadi seseorang yang hina dan penuh dosa, nggak. Lo hanya perlu refleksi diri dan evaluasi, apa yang kurang dalam diri lo dan berusaha untuk memperbaiki itu, tanpa memandang rendah orang lain, alias gak perlu sibuk kepo sama gimana cara orang lain melalui rintangannya.

Lastly but not least, i put the pic of quote below (hope it can motivates you) from my instagram account; Notes of Little Sister. You can click that link ๐Ÿ‘†๐Ÿผ to get more of my poems, another quotes and so on, since it is the Instagram's version of this blog๐Ÿ˜Š

Akhir kata, semoga kita semua selalu menjadi orang-orang yang bersabar dan mau terus belajar. Terima kasih sudah berkunjung!๐Ÿ–ค

You May Also Like

18 komentar

  1. Good post, mba Awl ๐Ÿ˜

    Memang sebaiknya kita fokus sama diri kita (dalam segi kelebihan dan kekurangan kita) instead of fokus sama hidup orang yang akhirnya tanpa sadar jadi membuat kita membandingkan diri kita sama mereka ๐Ÿ˜ karena kalau sudah begitu nggak akan ada habisnya ~

    Dan sebaik-baiknya perbandingan itu menurut saya adalah perbandingan diri kita yang kemarin dengan yang sekarang, berharap bisa lebih mature daripada sebelumnya ๐Ÿคญ hehehe. Buat saya mba Awl sudah jadi pemenang, dengan tulisan mba sudah bisa memiliki pembaca dan peminat seperti saya contohnya ๐Ÿ˜

    Jadi jangan menyerah, mba Awl masih muda, jalan masih panjang, akan banyak kegagalan lain yang mba temui di luar sana, life is all about challenge anyways. Kita baru benar-benar gagal kalau kita nggak bisa mendapatkan pelajaran dari apa yang kita lakukan ๐Ÿ˜๐Ÿ’• so, semangat yah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, ngerasain banget kalau kita terlalu fokus sama hidup orang lain malah bikin penyakit hati dan yang ada jadi insecure sendiri, padahal gak baik memposisikan diri kita sebegitu rendahnya. Seolah-olah kejelekan aja yang keliatan dari diri sendiri๐Ÿ˜Ÿ

      Terima kasih banyak mbaa, such a pleasure to get connected with you and read those pleasant words๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜

      Semoga kedepannya saya bisa terus tumbuh jadi pribadi yg lebih dewasa dan lebih siap buat menghadapi tantangan-tantangan yang menanti di depan sana๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ’ช๐Ÿป

      Semangat juga untuk mba Eno!๐Ÿค—❤️

      Delete
  2. What a good post Awl! Baca post ini pagi-pagi seperti baca renungan dan bikin aku jadi mengintrogasi diri.

    Aku setuju kalau kita dididik untuk menang, mungkin nggak semua orang mengalaminya tapi aku iya. That's why selama hidup, aku lebih sering ngerasa berkompetisi dengan orang lain dan harus menang. Oemjii, salah banget sih ini ๐Ÿ˜ญ

    Belakangan aku belajar bahwa hidup itu komunitas bukan kompetisi. Kita sama-sama berkembang untuk bisa menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih baik.

    Awl, terima kasih tulisannya! Such a good reminder for myself ๐Ÿ’•

    Semoga kita semua menjadi orang yang sabar dan mau belajar. Semangat ๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ”ฅ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sengaja nih post pagi-pagi biar jadi kuliah umum ehehe ngga deng๐Ÿ˜‚

      Seneng banget rasanya bisa berbagi energi positif buat kita merenung tentang kompetisi hidup ini sama mba Lia:')

      Makanya aku sebisa mungkin menanamkan kalimat ini mba, "life isn't a race with everybody else, life is a moment to grow and to learn without minding other people's business", karena nyambung seperti yg mba bilang bahwa hidup ini komunitas, bukan kompetisi (which is kata-kata yg belum pernah aku denger dan 100% true!๐Ÿ˜). Harusnya kita bisa sama-sama berkembang di dalam komunitas itu dan saling belajar satu sama lain, bukan berusaha menjatuhkan atau saling pingin jadi nomor satu.

      Anyways, makasih juga mba Lia udah mampir, you're so sweet๐Ÿ˜ญ

      Semangat kita semua!๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ”ฅ

      Delete
    2. Berasa sih ini kayak baca pengantar kuliah umum ๐Ÿคฃ

      Oemjiii kata-katanya sama banget sih maknanya! Nyambung ya!
      Huhuhu terima kasih sekali lagi buat pengingatnya Awl ๐Ÿ’•

      Apa atuh aku dimana so suitnya ๐Ÿ˜‚

      Semangat yaa!

      Delete
    3. Waduh dah bisa dong ini kalau lanjut master๐Ÿคฃ

      Ya kan mba Liaaaa huhu makasih jugaa buat kata-katanya yg enlighten๐Ÿ˜

      Gatau pokoknya so sweet aja deh๐Ÿ˜—๐Ÿ˜‚ semangat juga mbaa!

      Delete
  3. Halo mbk awl๐Ÿ˜Š
    Nggak bisa dipungkiri kalau kegagalan itu pasti menyakitkan ya. Apalagi kalau terjadi berkali-kali. Tapi tanpa kita sadari juga kegagalan itu yang membentuk kita umtuk jadi lebih kuat dan dewasa. Kayak mbk awl yang gagal menang dalam lomba. Menurut saya itu sudah satu keberhasilan, keberhasilan untuk berani mencoba. Nggak semua orang berani mencoba lho.. Apalagi kalau pernah gagal.
    Ya, kayak saya ini๐Ÿ˜‚
    Saya juga pernah merasa hebat dalam sesuatu, tapi kemudian saya sadar saya nggak sebanding sama mereka diluaran sana. Kayaknya saya cuma bisa-bisa'an aja tapi nggak bakat.
    Kemudian saya mikir "ah. Kalau nggak bakat emang kenapa? Di dunia ini kalau nggak punya bakat masih bisa pakai banyak cara untuk berhasil. Seperti konsisten, terus berlatih dan bangkit walaupun gagal terus. Saya mungkin nggak punya bakat spesial, jadi yang saya bisa cuma konsisten๐Ÿ˜"

    Makin ke sini juga, saya jadi makin menikmati proses yang panjang ini. Nggak nyangka aja saya bisa betah sama prosesnya, nggak tahu juga bakal berhasil atau enggak. Tapi mencoba dan berusaha lebih baik dari pada nggak melakukan apa2.
    Cemungut mbk awl๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Astria, kegagalan ada pada akhirnya untuk membentuk diri kita. Saya pun gak mungkin bisa lebih dewasa dalam melihat kehidupan (walaupun ini masih harus belajar banyak lagi) kalau gak belajar dari kegagalan-kegagalan yang menimpa saya๐Ÿ˜ญ Gak kebayang kalau kita hidup mulus-mulus aja, bisa-bisa sebenernya saya jadi manusia yang gak diberi pertolongan sama Allah karena dikasih enak terus, ngeri juga:(

      Ehehe iya juga ya mba, dengan mencoba berarti saya udah selangkah lebih berani daripada yg saya pikir. Kalau dipikir-pikir lagi emang berani juga saya dulu ikut ini ikut itu, masih ngerasa kurang syukur aja gara-gara gagal, hadeuh๐Ÿ˜…

      Malah kadang mba, orang yg konsisten dan terjang terus kayak mba ini yang lebih baik daripada mereka yang cuma ngandelin bakat. Orang kalau bakatnya gak diasah kan percuma, ibaratnya kayak kedebongan pisang hanyut di kali, ngambang aja hidupnya hoho๐Ÿ˜‚ Justru yang mba lakuin itu ada effort, ada niat, lama-lama bakat pasti terasah dengan sendirinya. Seperti yang mbak bilang, mencoba dan berusaha memang lebih baik daripada nggak melakukan apa-apa. Semoga saya bisa terus konsisten dan menikmati proses seperti mba ya:') Hehe
      Cemungut juga mba Astriii๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ’ช๐Ÿป๐Ÿ˜

      Delete
    2. Waduh kedebongan pisang๐Ÿ˜‚, jangan sampai deh jadi kedebongan pisang yang jalan-jalan di kali.

      Iya lho. Mbk awl berani banget ikut lomba ini itu....
      Saya dulu, padahal suka gambar tapi nggak pernah berusaha ikut lomba gambar dan malah berburu wifi๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
      Buat nonton pelem korea. Ya ampun, nyesel kalau inget.
      Kegagalan itu bukti dari usaha.
      Jadi cemungut terus mbk awl.๐Ÿ’ช
      Dari kemarin bagi2 cemungut terus ya๐Ÿ˜‚
      Yah, daripada bagi2 merengut. Nggak guna.

      Delete
    3. Hahaha gapapa mba selama berburu wifinya bermanfaat jangan disesali, kan lumayan tuh bisa belajar bahasa Korea๐Ÿ˜‚
      Wahaha iya juga nih, daripada merengut mulu, gak bahagia mending bagi2 cemungut biar cemungut terus kayak mba๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ’ช๐Ÿป

      Delete
  4. Wahhh cakep tulisannya :)
    Refleksi diri emang penting, dan memang yang terpenting adalah ngga terlalu ambil pusing dengan orang lain. Sebagai motivasi boleh tapi proses belajar setiap orang berbeda.

    There is everytime you get up from your failures and try it again.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh makasih banyak kak Renov๐Ÿ˜

      Iya betul kak, kita gak bisa terus ngebandingin diri kita sama orang lain, atau bahkan berusaha sama seperti mereka, karena yang ngeshape diri masing-masing itu udah ada jalan dan prosesnya masing-masing pula, seperti yang mba bilang, proses setiap orang beda-beda.๐Ÿ™„๐Ÿ˜…

      Delete
  5. Ka Aina thank you๐Ÿ˜ญ Aku sering banget ngerasa gagal karena apa yang aku ingin kan dan perjuangkan belum tercapai. Gagal gagal gagal terus. Misal di sekolah, dirumah, dan di tempat latihan. Aku sering merasa gagal ditambah aku juga insecure. Tapi saat aku menginjak usia 17tahun dan setelah baca tulisan kaka ini aku jadi makin sadar tentang makna kegagalan itu sendiri dan hikmah dibalik itu semua.๐ŸŒป

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Tasya! Glad to share with you too:')

      Nah sekarang udah gak boleh sedih-sedih lagi ya, apalagi perjalanan masih panjang, harus semangat dan gak boleh kalah sama keadaan kalah ataupun gagal. Dengan seringnya gagal berarti kita selangkah lebih dewasa dan lebih bisa sabar dalam menghadapi tantangan lain dalam hidup. Semangat terus untuk Tasya!๐Ÿ’•

      Delete
  6. Keren tulisanmu Awl. Eh, gapapa ya sok akrab, hahaha aku kira kita seumurah deh.
    Jiwa kompetisi aku dah lama padam nih. Rasanya masa kuliah nih beneran gak ada ikutan lomba atau kompetisi gitu deh. Tapi ada ikutan seleksi lain yang bikin deretan kegagalan aku pun agaknya lumayan panjang. Nyesek juga pas tinggal selangkah lagi tapi ternyata harus gugur. Yaah, pasti ada hikmah di balik setiap kegagalan yang kita alami. Kayak kalimat kamu di atas the more failures you get, the more mature you will be. Tetap semangat gimanapun hasilnya yang penting kita dah kasih totalitas kita untuk itu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Navia, haha gapapa laah. Aku baru nyadar lho kamu ini salah satu author di sosisproject setelah km bilang kita seumuran๐Ÿ˜‚
      Dari seleksi-seleksi kayak gitu juga sama aja nyeseknya emang kalau kita gagal, berasa makin gak berguna aja diri ini hiks:( Padahal dari situ pasti ada hikmah yg bisa kita ambil. Yuk kita sama-sama tetap semangat menyongsong masa depan. Mau gugur atau nggak, pokoknya all out aja gitu ya๐Ÿ˜…๐Ÿ’ช๐Ÿป

      Delete
  7. Salam kenal mbak Awl. "Memangnya kenapa kalau ada orang yang lebih jago? Again, you are so enough. Gak ada yang menyuruh gue untuk lebih jago dari orang lain, yang ada adalah gue harus belajar banyak dari mereka yang hebat di luar sana." Suka banget sama kalimat ini. Jadi bisa aku refleksikan di kehidupanku. Gausah susah2 mikir orang lain,yang penting fokus aja sama proses membentuk the best version of muself. Keren mbak post-nyaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak Shohi, salam kenal juga ya mbak๐Ÿ‘‹๐Ÿป๐Ÿ˜Š

      Hihi terima kasih banyak mbaa, senang bisa sharing untuk kita sama2 self-reflect tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri๐Ÿ˜‡ Semangat terus untuk mbaknyaa! Makasih banyak sudah mampir.๐Ÿ˜๐Ÿ’•

      Delete